Minggu, 6 Sep. 2015

TELADAN IMAN NUH : HIDUP YANG MENYENANGKAN HATI TUHAN

Kejadian 6:5-12; Ibrani 11:7

       Kita diciptakan Untuk Kesenangan Allah. Mendatangkan kegembiraan bagi Allah, hidup bagi kesenangan-Nya seharusnya menjadi tujuan utama bagi hidup kita. Hari ini kita akan belajar dari Nuh, seorang pribadi yang mendapatkan kasih karunia dari Allah dan yang hidupnya  bergaul dengan Allah. Bagaimana Nuh hidup bergaul dengan Tuhan dan menyenangkan hati Tuhan ?

  1. Nuh Hidup Bergaul Dengan Allah Meski Seorang Diri.

Nuh mengasihi Allah dan bergaul dengan Allah lebih dari apapun di dunia ini, bahkan ketika tidak seorang pun perduli kepada Allah. Seperti Henokh bergaul dengan Allah (Kej 5:24) demikian juga dengan Nuh. Sudahkah kita hidup bergaul dengan Allah dalam kehidupan iman kita setiap hari. Bergaul dengan Allah berarti ada Keintiman dalam relasi dengan Tuhan, ada gairahuntuk     selalu bersekutu dengan Tuhan  dan memiliki  komitmen tetap mengasihi Tuhan apapun resikonya.

  1. Nuh Mempercayai Tuhan Sepenuh Hatinya.

Ibrani 11:7 dengan jelas mengatakan bahwa  karena iman, maka Nuh-dengan petunjuk Allah tentang sesuatu yang belum kelihatan – Taat mempersiapkan bahtera. Perintah yang diberikan Tuhan adalah perintah yang sulit bisa dipahami Nuh. Ada  tiga masalah Nuh Dapat bimbang :

  1. Nuh tidak pernah melihat hujan (Kej 2:4-6). Bagaimana mengerti air bah ?
  2. Nuh hidup ratusan mil dari samudera terdekat, meski bisa membangun bagaimana  membawa ke air ?
  3. Tidak mudah mengumpulkan binatang seperti yang Tuhan perintahkan.

Tetapi Nuh tidak mengeluh, menolak atau membuat alasan. 

Nuh memerlukan waktu 100-120 tahun untuk membangun bahtera tersebut. Mengalamikesulitan dan kelelahan mengerjakan bahtera yang besar dengan orang dan perlengkapan terbatas. Tanpa mengerti akan hujan dan tahun – tahun tak pernah hujan, orang-orang bisa menghina bahwa Nuh Gila. Bisa jadi anak-anak juga malu. Tetapi Alkitab dengan jelas mengatakan bahwa Nuh melakukan semua seperti yang diperintahkan Tuhan. Tetapi Nuh tetap mempercayai Tuhan. Ibrani 11:6, “Tanpa iman tidak mungkin berkenan kepada Allah.” Ada upah bagi orang yang sungguh mencari  Tuhan dan beriman kepada –Nya.

  1. Nuh Pribadi Yang Selalu Memuji Dan Bersyukur Kepada Tuhan.

Allah kita adalah Allah yang bersemayam di atas puji-pujian umat-Nya (Mzm 22). Kehidupan Nuh penuh dengan pujian dan pengucapan syukur kepada Tuhan. Tindakan pertama Nuh setelah selamat dari air bah adalah menyatakan syukurnya kepada Tuhan. Baca : Kej 8:20-9:1.

Karena pengorbanan Yesus, kita tidak memberikan kurban binatang seperti yan dilakukan Nuh. Sebaliknya, kita diperintahkan untuk memberikan kepada Allah, “kurban puji-pujian”. Dan juga ”kurban pengucapan syukur.” Kita bersyukur dengan mempersembahkan seluruh hidup kita untuk memuliakan Tuhan. Kita bersyukur dengan sikap hidup kita.

Sebuah teladan hidup dari Dr. Lie Dharmawan akan mengakhiri kotbah hari ini. Dr Lie Dharmawan adalah sosok dibalik kehadiran Floating Hospital atau rumah sakit apung swasta pertama yang melayani para pasien yang tidak terjangkau di pulau-pulau kecil di Indonesia. Sejak pertama kali diresmikan pada 6 Juni 2013 lalu, rumah sakit ini telah melayani lebih dari 1000 pasien di berbagai pulau di Indonesia.

Profesinya sebagai dokter menjadi satu dari banyak karunia yang telah dianugerahkan Tuhan dalam hidupnya. “Tuhan memainkan peranan yang sangat besar bagi saya. Saya sudah banyak mengalami kasih Tuhan. Sebagai anak yang tidak punya ayah, saya sudah berdoa bertahun-tahun setiap pagi ke gereja, saya ingin menjadi seorang dokter yang sekolah di Jerman dan Tuhan mengabulkan itu,” ujar Dr. Lie.

Sejak memutuskan untuk keluar dari Rumah Sakit, Dr Lie mengambil langkah untuk melayani setiap orang yang tidak mampu di berbagai kepulauan yang tidak dapat dijangkau oleh pemerintah. Ia menilai bahwa melayani sesama serupa dengan melayani Tuhan. Melalui Dr.Lie, Indonesia memiliki rumah sakit apung pertama yang telah banyak menolong orang-orang yang tidak mampu. Tindakan Dr. Lie menggenapi firman Tuhan dalam Yohanes 4:20 bahwa, “Jikalau seorang berkata : “Aku mengasihi Allah,” dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barang siapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya.”