Nehemia 3:3-5; 4:1-11; 6:1-16

 

Tujuan Pengajaran

  1. Jemaat mampu mengidentifikasi beberapa faktor yang dapat menimbulkan konflik.
  2. Jemaat berkomitmen untuk tetap fokus pada kemuliaan Tuhan.
  3. Melalui simulasi diharapkan jemaat dapat berlatih mengelola konflik sesuai prinsip firman Tuhan.
  4. Melaluhi studi mandiri diharapkan jemaat dapat menemukan dan meneladani Yesus dalam menghadapi perlawanan.

 

Pendahuluan

Ajaklah jemaat untuk membagikan hasil studi mandiri dari 1 Korintus 3 dan bandingkanlah prinsip-prinsip dalam Perjajian Baru ini dengan cara Nehemia mempimpin kelompoknya. Dan Kisah Raja Yosia dalam 2 Raja-raja 22-23 atau 2 Tawarikh 34-35. Pelajaran dan komitmen baru apakah yang telah anda miliki setelah melakukan studi mandiri tersebut?

Ketika Nehemia mulai membangun tembok, tidak semua orang suka dengan apa yang dilakukannya. Meskipun demikian, ia tidak mengijinkan berbagai penolakan yang ada untuk menghentikan langkahnya membangun tembok Yerusalem. Nehemia mengerahkan segenap kekuatannya untuk tetap membangun hingga selesai karena ia yakin akan kekuatan dan penyertaan Tuhan atas hidupnya.

Pertanyaan diskusi:

  1. Ketika anda mendapatkan perlawanan, entahkah itu dari pasangan, teman kerja, sahabat, anak buah, dll. Response seperti apakah yang sering kali anda berikan?
  2. Ketika anda mendapat perlawanan dari orang asing (yang tidak anda kenal), bagaimana respon anda?
  3. Apakah reaksi tersebut merupakan contoh yang baik dalam mengelola konflik?
  4. Apa yang akan anda lakukan jika konflik tersebut sepertinya sukar selali diselesaikan? Sikap seperti apakah yang harus dipilih oleh anak-anak Tuhan?

 

Poin-Poin Pengajaran

  1. Perselisihan dengan Sahabat dapat Menjadi Api yang Mematikan.

Sebagai orang Kristen, kita seringkali berharap bahwa perlawanan itu datangnya dari orang yang tidak mengenal Tuhan. Namun justru sering kali perlawanan itu datangnya dari sesama orang percaya.

Bacalah Nehemia 3:3-5

Beberapa orang-orang terkemuka yang seharusnya mendukung langkah Nehemia, justru memberi perlawanan. Hal ini bukanlah sesuatu yang mengherankan, sebab memang setiap kali seorang pemimpin membawa orang-orang yang dipimpinnya ke tempat-tempat baru, ia seringkali harus mempertaruhkan posisi, kekuasaan, penolakan dan dukungan.

Dalam kepemimpinan kita sehari-hari pun kita akan menemukan kejadian yang serupa,  yakni memperoleh perlawanan dari sahabat. Tidak semua orang yang kita pimpin memiliki antusias yang sama seperti kita terhadap visi yang kita miliki. Firman Tuhan menyaksikan sikap Nehemia terhadap “pemuka-pemuka mereka tidak mau memberi bahunya untuk pekerjaan tuan mereka,” yakni tidak memberi perhatian berlebihan.

Pernahkah anda memiliki pengalaman justru ditentang oleh saudara seiman ketika melakukan sesuatu yang baik?

  1. Apakah mereka memakai alasan yang masuk akal? Apakah mereka juga memiliki dasar alasan yang kuat seperti anda? Apakah perlawanan tersebut bersifat membangun?
  2. Jika itu tidak membangun, menurut anda kira-kira apakah motivasi dibalik perlawanan tersebut?
  3. Bagaimana cara anda mengelola perlawanan tersebut?
  4. Apakah anda merasa ada yang perlu diperbaiki dalam hal cara mengelola perlawanan? Jika iya, dalam hal apa saja?

Aktifitas tambahan: Untuk menambah keterampilan dalam mengelola konflik dalam pelayanan. Bagilah anggota komsel anda dalam kelompok kecil dan diskusikan beberapa simulasi berikut. Temukan strategi terbaik dalam mengelola konflik yang ada. Dan hasilnya akan dipresentasikan di akhir simulasi.

  1. Maria dan Meriam adalah satu tim dalam mengajar Sekolah Minggu kelas Pra-Remaja. Dalam mengajar, Maria ingin lebih menekankan menghafal ayat Alkitab dan pendalaman Alkitab. Namin Meriam justru menghendaki memperbanyak aktifitas dan kreatifitas yang menyenangkan.
  2. Bobo dan Bibi adalaj anggota futsal gereja yang akan mengikuti turnamen antar gereja. Bobo berpikir hanya akan mengajak anggota gereja saja yang di daftarkan dalam turnamen Futsal untuk menjaga integritas diri, tim dan gereja. Akan tetapi, Bibi justru berprinsip siapa saja boleh di daftarkan sekalian untuk penjangkauan.
  3. Finna dan Fio sedang memulai persekutuan doa kelompok. Finna merasa perlu untuk memberi pelajaran tentang doa kepada anggotanya sebelum berdoa bersama-sama. Tapi Fio justru berpikir sebaliknya yaitu abaikan semua itu dan segera berdoa.

 

  1. Perkataan Musuh juga Dapat Menjadi Api yang Mematikan.

Bacalah Nehemia 4:1-11; 6:1-16

Sanbalat adalah salah satu musuh Nehemia dalam pembangunan tembok Yerusalem ini. Sanbalat dan teman-temannya melakukan teror dan cacian secara maksimal. Begitupula halnya yang dilakukan oleh Tobia orang Amon. Mereka mengolok-olok orang Yahudi. Mereka berkata, “Apa gerangan yang dilakukan orang-orang Yahudi yang lemah ini? …. Sekalipun mereka membangun kembali, kalau seekor anjing hutan meloncat dan menyentuhnya, robohlah tembok batu mereka.” (Neh. 4:3). Akan tetapi Nehemia tidak terprofokasi atau pun meresponi teror mereka, akan tetapi membawa semua teror dan olokan tersebut dalam doanya kepada Tuhan (Neh. 4:4-5). Dengan doa, mereka justru semakin giat membangun tembok Yerusalem.

Meskipun banyak teror dan intimidasi, Nehemia tetap teguh melanjutkan pembangunan tembok Yerusalem. Ia tak terhentikan oleh perilaku busuk musuh-musuhnya (Neh. 6:13). Ia menolak untuk mundur atau menghentikan pembangunan ini. Sekali lagi, ditengah-tengah intimidasi dan teror yang berat Nehemia kembali berdoa kepada Tuhan agar diberi kekuatan untuk melanjutkan pekerjaannya (Neh. 6:9) serta memohon keadilan Tuhan (Neh. 6:14).

Apa strategi Nehemia sehingga ia tetap teguh ditengah intimidasi dan terror? Kembali kepada langkah awal ketika ia hendak membangun, “Allah semesta langit, Dialah yang membuat kami berhasil!” (Neh. 2:20). Dan ketika pembangunan itu selesai dalam 52 hari, musuh-musuh Nehemia pun sadar bahwa Tuhan-lah yang menolong mereka membangun kembali tembok yang runtuh tersebut (Neh. 6:16).

Adakalanya seorang pemimpin akan merasa sendiri, berada di dalam lembah kekelaman ketika maksud baik dan apa yang sedang dikerjakannya mendapat perlawanan yang begitu gencar dari para penentang.  Akan tetapi, seorang pemimpin yang besar akan membawa semua permasalahannya  kepada Tuhan, mendekat kepada-Nya untuk beroleh kekuatan dan tetap setia mengerjakan pekerjaannya. Dengan adanya perlawanan, ia justru semakin kuat untuk menyelesaikan pekerjaannya dan bagi misi Allah selanjutnya.

  1. Pernahkah anda mengalami perlawanan atau intimidasi dari orang-orang yang bukan Kristen, dalam hal apa? Ceritakan!
  2. Apakah mereka hingga kini masih menentang anda?
  3. Hal apakah yang perlu dilakukan ketika menghadapi perlawanan atau teror?

Aktifitas tambahan: Untuk menambahkan keterampilan dalam mengelola konflik dalam pelayanan dan keseharian hidup kita, diskusikanlah pertanyaan-pertanyaan berikut. Kembalilah ke dalam kelompok kecil dan diskusikan bagaimana cara mengelola penolakan. Hasilnya akan dipresentasikan di depan kelompok.

  1. Pak Mangkubumi berencana membuka rumahnya untuk komsel, akan tetapi Pak Mangkuarta (seorang yang tidak percaya kepada Tuhan Yesus) menolak rencana tersebut dan menyebarkan rumors kepada tetangga sekitar.
  2. Kristo adalah seorang yang sangat cinta Tuhan dan memiliki beban yang membara untuk memberitakan Injil. Dimana pun ia berada, Kristo selalu berusaha memberitakan Injil dan membagikan traktat. Begitupun ketika ia sedang berada di kantor. Kristi teman sekantor Kristo merasa keberatam dengan apa yang dilakukan Kristo. Kristi melaporkan Krito kepada atasan dan keluarlah surat teguran kepada Kristo.

 

Aktifitas

Tuhan Yesus Kristus adalah teladan sempurna bagi kepemimpinan Kristiani dan keempat Injil menjadi manual book  kepemimpinan Kristiani saat ini. Lakukanlah studi mandiri selama seminggu ini, bacalah Yoh. 17:12-13, 15, dan 18 dan temukan teladan apa saja yang diberikan oleh Tuhan Yesus tentang responnya terhadap perlawanan. Kemudian jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

  • Bagaimana cara Yesus berdamai dengan berbagai macam penolakan atau perlawanan baik itu dari sahabat atau keluarganya? Bagaimana dengan perilaku jahat orang-orang Farisi dan Roma?
  • Pelajaran apa sajakah yang dapat anda pelajari dari teladan Yesus Kristus?
  • Hal-hal apa saja dalam hidup anda yang membutuhkan perbaikan? Apakah anda bersedia untuk memperbaiki dan mau bekerjasama dengan Roh Kudus?
  • Sharingkan perenungan anda pada pertemuan komsel mendatang.